Dialektika Sains, Tradisi & Al-Qur'an: Representasi Modernitas dalam Tafsir Rahmat karya Oemar Bakry

Oleh: Sakila Lu’Luil Maknun

Di tengah dominasi tafsir-tafsir populer seperti Al-Misbah karya Quraish Shihab atau Al-Azhar milik Buya Hamka, terdapat satu permata literatur tafsir Nusantara yang mungkin jarang terdengar di telinga generasi milenial: Tafsir Rahmat karya Oemar Bakry. Meski kurang populer dalam studi akademik dibandingkan raksasa lainnya, tafsir ini menawarkan perspektif yang sangat progresif dan "berani" dalam merespons perkembangan zaman. 
Sains sebagai "Lampu" Penjelas Al-Qur’an

Salah satu daya tarik utama dari Tafsir Rahmat adalah keberaniannya melakukan dialektika sains. Bagi Omar Bakry, penemuan ilmiah bukanlah ancaman bagi iman, melainkan alat untuk memvalidasi kebenaran kandungan Al-Qur’an. Beliau mengibaratkan sains sebagai lampu yang menyinari makna ayat-ayat Tuhan. Sebagai contoh, dalam menafsirkan larangan makanan tertentu atau perintah menyembelih hewan dengan menyebut nama Allah, Bakry mengaitkannya dengan dampak kesehatan fisik dan psikologis yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Al-Qur’an dipandang mendorong manusia untuk terus berpikir dan melakukan observasi alam, yang kemudian menghasilkan pengetahuan ilmiah terbaru.

Diksi Modern: Dari Akuntan hingga Ruang Angkasa. 
Hal yang paling unik dan terasa "modern" dalam tafsir ini adalah pemilihan diksinya. Oemar Bakry tampaknya ingin agar Al-Qur’an terasa sangat dekat dengan denyut nadi masyarakat modern saat itu (sekitar tahun 1980-an). Beberapa contoh transformasi pemaknaan yang menarik antara lain: Katibun yang biasanya diartikan sebagai "penulis" atau "pencatat", oleh Bakry diterjemahkan sebagai akuntan; Samawat yang umum dimaknai "langit", diterjemahkan menjadi ruang angkasa; Azab yang menyengsarakan manusia dikaitkan dengan ancaman modern seperti bom atom atau peluru kendali; Al-Fahisyah (perbuatan keji) dimaknai secara spesifik sebagai penyimpangan seksual. Pilihan kata tersebut menunjukkan upaya Bakry untuk melakukan de-arkaisasi bahasa agama agar lebih relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Jihad adalah Kedamaian, Bukan Perang.

Tidak hanya soal sains, Oemar Bakry juga membawa semangat modernitas dalam tradisi dan sosial. Beliau sangat menekankan konsep pluralitas. Bagi Bakry, hubungan antara Muslim dan non-Muslim dalam konteks sosial adalah hal yang sah-sah saja, asalkan tidak memicu konflik. Lebih jauh lagi, beliau melakukan reinterpretasi terhadap makna jihad. Dalam konteks Indonesia, jihad tidak dimaknai sebagai perang fisik, melainkan upaya menciptakan kedamaian, berdakwah dengan santun, berinfak, hingga membangun fasilitas pendidikan. Sikap ini menunjukkan posisi Bakry yang moderat dan kontekstual terhadap realitas bangsa Indonesia.

Kritik dan Konteks Sejarah
Namun, setiap karya tentu memiliki ruang untuk dikritisi. Dr. Faris Maulana Akbar dalam diskusi tersebut memberikan catatan reflektif bahwa "kemodernan" Bakry perlu dilihat dalam konteks masanya. Lahir di Minangkabau dan besar dalam tradisi pembaruan Islam (seperti pengaruh Jamaluddin al-Afghani), Bakry hidup melintasi berbagai zaman, mulai dari kolonial hingga Orde Baru. Munculnya wacana sains dalam Tafsir Rahmat kemungkinan besar merupakan respons terhadap tren "Islamisasi Pengetahuan" yang sedang booming di era 1980 an. Meskipun Bakry bukan seorang ilmuwan (saintis) murni, ia menggunakan sains sebagai fenomena untuk memudahkan masyarakat memahami pesan-pesan Al-Qur’an dengan bahasa yang lebih "kekinian" pada masanya.

Penutup
Tafsir Rahmat adalah bukti bahwa mufasir Nusantara memiliki daya kritis yang tinggi terhadap perkembangan zaman. Meskipun mungkin ada klaim-klaim sains yang perlu diuji kembali secara ketat, upaya Oemar Bakry untuk mendamaikan teks suci dengan nalar modern tetap menjadi warisan intelektual yang luar biasa. Tafsir ini mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan masa lalu, melainkan petunjuk yang terus hidup dan berdialektika dengan ilmu pengetahuan.

 



Previous Post Next Post

Contact Form