Oleh: Alfaizah Fiddaroini
Sidoarjo, 13 Februari 2026 – Komunitas Literat Muda (KLM)
kembali menggelar kegiatan silaturahmi inspiratif dalam tajuk "Jejak
Ilmiah Khobirul Amru, M.Ag: Inspirasi Literasi untuk Literat Muda" .
Bertempat di kediaman Bapak Khobirul Amru, kegiatan ini bertujuan untuk
menggali pengalaman serta memotivasi para anggota KLM dalam menekuni dunia
literasi dan akademik, khususnya di bidang keislaman.
Acara ini dihadiri oleh anggota KLM yang antusias
mendengarkan perjalanan hidup sosok dosen muda UIN Sunan Ampel Surabaya
tersebut. Setibanya di lokasi, rombongan disambut dengan hangat dan penuh
kekeluargaan. Mengawali sesi berbagi, Pak Khobir menceritakan bahwa perjalanan
pendidikannya dimulai dari Jombang, tepatnya di SMPN 3 Darul Ulum atas dorongan
almarhum ayahandanya.
Menariknya, di masa sekolah umum, Pak Khobir lebih menyukai
ilmu eksak seperti matematika. Namun, benih cinta pada ilmu agama mulai tumbuh
saat ia memutuskan pindah ke MA Unggulan Darul Ulum. Meski sempat dipandang
sebelah mata karena latar belakang sekolah umum yang dianggap tidak linear
dengan sekolah agama, beliau membuktikannya dengan tekad kuat. Beliau mulai
menghafal Al-Qur'an sejak kelas 9 dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu
sekitar 3 tahun di bawah bimbingan Gus Awis di Ribath Hidayatul Qur'an (HQ).
Perjalanan akademiknya pun tak lepas dari dinamika. Setelah
lulus Aliyah, beliau sempat diterima di Fakultas Dirasah Islamiyah (FDI)
Jakarta namun Ibu beliau merasa keberatan. Beliau kemudian memiliki tiga opsi
lain yaitu di Yaman, Madinah, atau Al-Azhar, tetapi lagi-lagi Ibu tidak
mengizinkan. Di tengah kebingungan tersebut, guru beliau mendaftarkannya
melalui jalur SPAN-PTKIN ke UIN Sunan Ampel Surabaya. Keputusan ini diperkuat
setelah beliau sowan ke Gus Awis, yang meyakinkannya dengan memberikan wejangan:
"Bukan di mana kamu sekolah, tapi bagaimana kamu
sekolah. Mau sekolah favorit pun tapi kalau kamunya blendesi (tidak serius), ya
percuma," ungkap beliau menirukan
pesan mendalam dari Gus Awis. Di kampus inilah karirnya berkembang, mulai dari
menyelesaikan S1, berlanjut ke S2 melalui jalur beasiswa, hingga akhirnya
diterima sebagai dosen tetap di UINSA pada akhir 2021.
Kepada para anggota KLM, Pak Khobir menitipkan pesan penting
tentang proses dan cara berinteraksi dengan Al-Qur'an. Beliau menekankan bahwa
setiap orang memiliki porsi ujiannya masing-masing, sehingga tidak perlu
terlalu fokus membandingkan diri dengan orang lain. Khusus bagi para penggiat
literasi Islam, beliau membagikan lima tahap intens untuk mendekatkan diri pada
Kalamullah, yang dimulai dari qiraah atau rajin membaca, kemudian tafahum
dengan mempelajari perangkat ilmunya, dilanjutkan dengan tadabbur untuk
merenungkan makna, hingga amal dan istihdzor yang berarti menerapkan serta
menghadirkan petunjuk Al-Qur'an dalam setiap langkah kehidupan sehari-hari.
Menutup perbincangan, beliau mengutip dua kata sakti dari
Gus Awis: "Apik kabeh" (semua baik). Beliau mengingatkan bahwa segala
sesuatu sudah ada garis takdirnya. Fokuslah pada "lembaran putih"
yang masih membentang di depan, daripada terpaku pada apa yang sudah berlalu.
Melalui kegiatan ini, diharapkan anggota Literat Muda dapat mengambil ibrah
untuk terus berproses dan mencintai jalan literasi yang sedang ditempuh.