Pada Sabtu, 11 Januari 2026, NGALAM (Ngaji Malam) menghadirkan sesi bedah artikel karya Yusrina Salma yang berjudul “Narrative Hermeneutics as Digital Tafsīr: Reconstructing Qur’anic Meaning and Religious Authority on Instagram @NadirsyahHosen_Official.” Diskusi ini tidak hanya mengupas isi dan argumen artikel secara kritis, tetapi juga mengenai bagaimana penafsiran Al-Qur’an bertransformasi di era digital, khususnya melalui media sosial sebagai ruang produksi dan distribusi otoritas keagamaan kontemporer. Pada kegiatan kali ini, Yusrina Salma selaku pemateri menyampaikan bagaiman artikel hasil karyanya ini menjadi karya yang menarik karena menjadikan tafsir berbasis kisah sebagai objek kajian penelitian. Munculnya tafsir berbasis kisah sekaligus menunjukkan dinamika relasi antara kisah dengan Al-Qur'an bahwa kisah yang awalnya hanya merupakan bagian dari Al-Qur'an(Kisah Al-Qur'an), kemudian berkembang menjadi sumber dalam menafsirkan Al-Qur'an (Kisah Israiliyat) dan sekarang menjadi produk tafsir (tafsir berbasis kisah). Karya yang terindeks Scopus ini, memakai teori naratif Labov dan Waletzky untuk membedah struktur naratif dalam tafsir berbasis kisah yang disajikan pada postingan instagram @nadirsyahhosen_Official.
Teori ini membagi cerita jadi lima struktur utama, biar gampang dipahami: orientasi, yang kayak pengenalan konteks dari sebuah cerita; klimaks, inti narasi yang penuh puncak konflik atau titik krusial peristiwa; evaluasi, bagian yang menjelaskan pesan, agar kita tahu apa arti kejadian tersebut bagi penutur dan pendengar; resolusi, di mana konflik atau masalah dalam cerita akhirnya diselesaikan; dan koda, penutup yang menghubungkan kisah itu sama zaman sekarang atau menarik kembali pembaca dari dunia cerita ke realita saat ini. Yusrina memaparkan bahwa ternyata setelah diteliti tafsir berbasis kisah yang disampaikan oleh gus nadir memuat kelima unsur naratif tersebut sehingga mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat awam.
Selain menggunakan teori struktur naratif Labov & Waletzky, dalam artikelnya Yusrina juga menggunakan teori netnografi untuk memetakan respon audiens terhadap unggahan tafsir berbasis kisah. Ada empat dimensi diantaranya Pertama, emosional-spiritual, di mana cerita nggak cuma dipahami otak, tapi juga dirasakan di hati. Kedua, epistemik-authoritative, audiens lihat Gus Nadhir sebagai sumber rujukan sah dan otoritatif, jadi tafsirnya bukan sekadar opini, tapi pengetahuan valid yang bisa dipercaya. Ketiga, social-communitarian, ini jadi titik temu kebersamaan, solidaritas, dan ikatan komunitas, meski nggak ketemu langsung. Tafsirnya ciptain rasa "kita" sebagai satu keluarga besar. Terakhir, edukatif-pragmatis, di mana tafsir ini dipandang sebagai alat belajar praktis yang langsung bisa diimplementasikan. Bukan stuck di teori saja, tapi audiens bisa langsung bertindak dan ambil keputusan nyata. Meskipun begitu, selaku pembanding kegiatan, yakni kak Hilmi menyatakan penelitian atau penafsiran yang nggak ada resistensinya, ya, objektivitasnya bisa lemah. Tanpa tantangan atau perdebatan, hasilnya jadi kurang kuat, kan?
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai tips dan
strategi agar artikel dapat lolos publikasi di jurnal bereputasi Scopus.
Menanggapi hal tersebut, pemateri dan pembanding menekankan pentingnya memahami
perbedaan mendasar antara ruang lingkup jurnal SINTA dan Scopus. Baik jurnal
terindeks SINTA maupun Scopus sama-sama menuntut kualitas penulisan yang baik
serta substansi ilmiah yang kuat. Namun, jurnal bereputasi internasional
seperti Scopus umumnya memiliki standar yang lebih tinggi dalam hal kebaruan
(novelty), kedalaman analisis, serta kontribusi terhadap diskursus ilmiah
global. Sementara itu, jurnal SINTA cenderung lebih berfokus pada kontribusi
dalam konteks nasional atau regional, meskipun tetap mengedepankan kaidah
akademik yang ketat.
Klik disini 👉PPT Materi
