Bedah artikel berjudul "Abraham’s Sacrifice in the Qur’an and the Bible: Comparative Hermeneutics of Narrative, Meaning, and Textual Authority"

 


Oleh: Divisi Website Komunitas Literat Muda

Kajian mengenai kisah pengorbanan Nabi Ibrahim kembali menjadi ruang diskusi yang menarik dalam kegiatan intelektual yang membahas hubungan antara teks suci, tafsir, dan nilai kemanusiaan. Pada kesempatan kali ini, Komunitas Literat Muda mengadakan Ngaji Malam (Ngalam) dengan mengangkat tema “Pengorbanan Ibrahim dalam Al-Qur’an dan Alkitab: Hermeneutika Perbandingan terhadap Narasi, Makna, dan Otoritas Teks.” Kajian yang diadakan pada Minggu, 17 Mei 2026 ini berusaha melihat bagaimana kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dipahami dalam tradisi Islam, Yahudi, dan Kristen, sekaligus menelusuri nilai-nilai etis yang terkandung di dalamnya. Kali ini KLM menghadirkan kak Azmy Muzammilatur Rahim sebagai pemateri yang akan membahas tema kajian melalui sebuah artikel yang berjudul “Abraham’s Sacrifice in the Qur’an and the Bible: Comparative Hermeneutics of Narrative, Meaning, and Textual Authority”.

Penulis artikel menggunakan pendekatan Comparative Hermeneutics dengan membandingkan dua sumber utama, yaitu Al-Qur’an surah As-Saffat ayat 99–113 dan Bibel kitab Genesis pasal 22 dalam artikelnya. Selain itu, kajian tersebut juga merujuk pada berbagai tafsir Al-Qur’an klasik dan kontemporer, serta literatur keagamaan Yahudi dan Kristen. Terdapat tiga pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam pembahasan ini. Pertama, bagaimana perdebatan tafsir mengenai siapa anak yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim. Kedua, adakah titik temu antara tradisi Islam, Yahudi, dan Kristen dalam memahami kisah tersebut. Ketiga, nilai etis apa yang dapat diambil dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dalam kehidupan saat ini.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa Al-Qur’an tidak menyebutkan secara eksplisit siapa anak yang akan dikorbankan oleh Nabi Ibrahim. Dalam surah As-Saffat, anak tersebut hanya disebut dengan istilah ghulāmin ḥalīm atau “seorang anak yang penyabar”. Fokus utama Al-Qur’an bukan terletak pada identitas sang anak, melainkan pada nilai tauhid, kepatuhan kepada Allah, dan pelajaran moral yang terkandung di dalam kisah tersebut.

Meski demikian, para mufasir memiliki perbedaan pandangan terkait identitas anak tersebut. Mayoritas ulama Muslim seperti Ibnu Katsir, Hamka, Quraish Shihab, dan Ibnu ‘Asyur berpendapat bahwa anak yang dimaksud adalah Nabi Ismail. Dalam tafsir kontemporernya, Quraish Shihab menjelaskan bahwa istilah ghulāmin ḥalīm pada ayat lain merujuk kepada Nabi Ismail. Namun, sebagian mufasir awal seperti At-Thabari pernah berpendapat bahwa anak tersebut adalah Nabi Ishaq. Pendapat ini dinilai dipengaruhi oleh riwayat Israiliyyat yang masuk ke dalam khazanah tafsir Islam.

Sementara itu, dalam tradisi Yahudi dan Kristen yang merujuk pada Genesis pasal 22, disebutkan secara eksplisit bahwa anak yang hendak dikorbankan oleh Abraham adalah Ishaq. Dalam narasi tersebut, Abraham menerima perintah Tuhan dengan penuh kepatuhan, begitu pula Ishaq yang digambarkan menerima peristiwa itu dengan lapang dada. Pada akhirnya, Tuhan menggantikan Ishaq dengan seekor domba. Tradisi Yahudi dan Kristen kemudian memaknai kisah ini sebagai simbol ketaatan, pengujian iman, dan bentuk perjanjian Tuhan dengan manusia.

Kajian ini juga menyoroti bagaimana perbedaan penafsiran tersebut kerap berkembang menjadi polemik antaragama. Tradisi Yahudi dan Kristen tetap berpegang pada penyebutan Ishaq, sementara sebagian ulama Muslim mengkritik keotentikan narasi Bibel dan menilai adanya unsur tahrif atau distorsi teks. Akibatnya, kisah Ibrahim tidak jarang berubah menjadi arena perebutan identitas dan klaim kebenaran antarkelompok agama.

Namun di balik seluruh perbedaan tersebut, terdapat titik persamaan yang justru menjadi pesan utama dalam kajian ini. Islam, Yahudi, dan Kristen sama-sama memandang Ibrahim sebagai simbol iman sejati dan teladan kepatuhan kepada Tuhan. Ketiga tradisi juga sepakat bahwa pada akhirnya Tuhan menolak pengorbanan manusia dengan mengganti sang anak menggunakan seekor domba. Hal ini menunjukkan bahwa nyawa manusia dimuliakan dan tidak boleh dikorbankan atas nama apa pun.

Selain itu, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim juga mengandung berbagai nilai etis yang relevan hingga saat ini. Nilai ketaatan, kepasrahan, dan cinta kepada Tuhan menjadi inti dari perjalanan spiritual Nabi Ibrahim. Di sisi lain, kisah ini juga mengajarkan penghormatan terhadap kehidupan manusia serta penolakan terhadap kekerasan atas nama agama. Dengan demikian, kisah Ibrahim tidak hanya dipahami sebagai narasi sejarah keagamaan, tetapi juga sebagai refleksi moral yang dapat membangun sikap kemanusiaan, toleransi, dan kedewasaan dalam beragama.

Kajian ini memberikan pemahaman bahwa perbedaan tafsir seharusnya tidak selalu berujung pada pertentangan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang dialog untuk menemukan nilai-nilai universal yang sama-sama dijunjung oleh setiap tradisi agama. Pada akhirnya, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim bukan sekadar tentang siapa anak yang dikorbankan, melainkan tentang makna iman, kemanusiaan, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Klik disini 👉PPT Materi



 

Previous Post Next Post

Contact Form