Kegiatan Ngalam (Ngaji Malam bersama KLM) kembali diselenggarakan oleh Komunitas Literat Muda sebagai agenda rutin mingguan yang selalu dinanti oleh para anggotanya. Pada kesempatan kali ini, kegiatan berlangsung pada Minggu, 15 Februari 2026 dengan suasana yang hangat dan penuh antusiasme dari para peserta yang hadir secara daring. Pada malam tersebut, Komunitas Literat Muda menghadirkan pemateri inspiratif, yaitu Siti Khodijah, M.Ag atau yang akrab disapa Kak Khadijah. Beliau merupakan lulusan magister program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dengan predikat mahasiswa terbaik akademik serta IPK sempurna, yaitu 4.0 yang tentu saja ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta. Tema yang diangkat dalam diskusi kali ini adalah “Sharing Session: Malam Inspratif bersama Kak Khodijah Lulusan Terbaik UINSA”, yang dipandu oleh moderator bernama Umayyatul Haritsah Ma’arif, mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Ngalam kali ini menjadi diskusi aktif antara pemateri, moderator dan seluruh peserta.
Dalam
pemaparannya, Kak Khodijah tidak hanya berbagi motivasi secara umum, tetapi
juga menceritakan pengalaman pribadinya selama menjalani dunia perkuliahan. Ia
menekankan pentingnya memposisikan diri sebagai seorang mahasiswa yang
bertanggung jawab, bukan sekadar menjalani kewajiban. Hal ini terlihat dari
prinsip yang ia pegang, bahwa ketika seseorang sudah memilih untuk berjuang,
maka perjuangan tersebut harus diselesaikan dengan sungguh-sungguh. Sama halnya
dengan ketika memilih untuk kuliah maka dirinya wajib untuk menyelesaikannya
dengan sungguh-sungguh.
Lebih lanjut,
Kak Khodijah menjelaskan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan
dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia
mengajak para peserta untuk tidak terlalu banyak overthinking, tetapi mulai
melangkah dari hal-hal sederhana. Fokus, ketekunan, dan sikap profesional
menjadi kunci penting dalam proses tersebut. Seolah tahu kalau makanan
sehari-hari mahasiswa adalah.. overthinking. Kebanyakan mahasiswa termakan oleh
pikirannya sendiri dan berujung burnout! “Kepikiran tugas atau kepikiran masa
depan itu boleh kok, justru yang gak boleh itu kalau gak dipikirin. Asal kalian
tahu porsinya aja, jangan berlebihan alias overthinking!” ucap kak Khodijah di
tengah penjelasannya.
Dalam konteks akademik, beliau juga memberikan gambaran strategi yang dapat diterapkan oleh mahasiswa, seperti kemampuan mengidentifikasi permasalahan, memetakan ide, hingga menyusun argumen yang kuat dengan didukung sumber-sumber yang kredibel. Proses ini, menurutnya, akan membantu mahasiswa tidak hanya dalam menyelesaikan tugas, tetapi juga dalam menghasilkan karya yang lebih bermakna. Kak Khadijah juga menekankan bahwa tugas perkuliahan sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban semata, tetapi sebagai bentuk kontribusi. Ia mendorong peserta untuk mengerjakan tugas secara maksimal, terbuka terhadap revisi, serta terus memperbaiki hasil kerja hingga layak untuk dipublikasikan atau memberi manfaat yang lebih luas. Jadi ketika tugas dapat diselesaikan sekaligus menghasilkan publikasi yang layak, mahasiswa memperoleh keuntungan ganda: kewajiban akademik terpenuhi dan dapat menghasilkan karya yang berkualitas. Ibaratnya, sekali mendayung, dua pulau terlampaui!
Di akhir sesi, suasana diskusi terasa semakin hidup ketika peserta mulai aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman masing-masing. Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan yang masuk, baik melalui kolom chat Zoom maupun yang disampaikan secara lisan langsung. Salah satu pertanyaan yang datang dari peserta yang sedang berada di fase penyusunan skripsi, yakni tentang bagaimana cara mengatasi rasa burnout dan malas yang seringkali sulit dikontrol. Menanggapi hal tersebut, Kak Khadijah menjelaskan bahwa pada dasarnya rasa malas itu bisa dikendalikan, asalkan ada kemauan untuk memulai. Ia kemudian berbagi tips sederhana namun konsisten, yaitu membiasakan diri untuk selalu membuka laptop setiap hari, meskipun hanya untuk menambah sedikit pembahasan, memperbaiki footnote, atau sekadar merapikan daftar pustaka. Menurutnya, langkah kecil seperti itu justru menjadi kunci agar progres tetap berjalan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya doa orang tua dalam setiap proses yang dijalani. Ia mengaku bahwa keberhasilannya meraih predikat cumlaude tidak lepas dari doa kedua orang tuanya. Bahkan, dalam setiap momen penting seperti hendak presentasi di kelas, ia selalu meminta doa kepada ayah dan ibunya. Hal sederhana tersebut, menurutnya, memiliki dampak besar dan menjadi penguat dalam setiap langkah yang diambil. Antusiasme yang tinggi menunjukkan bahwa materi yang disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasa relate oleh para peserta. Kegiatan Ngalam ini ditutup dengan kesan yang mendalam, di mana para peserta tidak hanya mendapatkan motivasi, tetapi juga bekal praktis untuk terus melangkah dalam mengejar cita-cita mereka.
klik di sini 👉PPT Materi
