Perjalanan intelektual Dr. Isa Ansori, M.Ag., tumbuh dari kebiasaan bertanya dan keberanian berpikir kritis sejak berada di lingkungan pesantren. Rasa ingin tahunya membuat ia gemar mempertanyakan berbagai hal, bahkan kerap bersikap kritis kepada gurunya. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari proses yang membentuk cara pandangnya terhadap ilmu pengetahuan dan kehidupan. Baginya, belajar tidak hanya berarti menerima penjelasan, tetapi juga berusaha memahami alasan di balik sesuatu. Sikap ini menjadi awal dari perjalanan intelektual yang terus berkembang melalui pengalaman dan proses belajar.
Meski sempat mendapat tawaran kuliah di Jakarta, Isa memilih melanjutkan pendidikan di Yogyakarta pada 1990–2000 dalam program studi Peradilan Agama. Perjalanan pendidikannya berlangsung di tengah perubahan pemikiran keagamaan, terutama sebelum dan sesudah Reformasi. Pada masa sebelum Reformasi, ruang untuk mengembangkan pemikiran agama masih terbatas. Setelah Reformasi, masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk berpikir dan mengkaji agama secara terbuka. Perubahan tersebut menjadi bagian penting dari latar perjalanan intelektualnya dalam memahami agama dan kehidupan.
Agama, Kebebasan Berpikir, dan Metodologi
Setelah menempuh pendidikan tinggi, Isa aktif mengikuti pengajian M. Quraish Shihab dan Prof. Nur Majid. Dari proses belajarnya, ia memahami bahwa Al-Qur’an memberikan petunjuk sekaligus menjelaskan konsekuensi dari pilihan manusia. Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki ruang untuk menentukan jalan yang dipilih beserta tanggung jawab yang menyertainya. Bagi Isa, memahami agama tidak cukup hanya dengan menerima penjelasan yang tersedia. Diperlukan proses berpikir yang mendalam agar pesan keagamaan dapat dipahami secara lebih utuh.
Pentingnya metodologi semakin menguat dalam perjalanan intelektualnya setelah mendengarkan ceramah seorang profesor. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa setiap upaya memahami persoalan membutuhkan cara dan kerangka berpikir yang tepat. Ketertarikannya terhadap pengetahuan juga membuatnya tidak ingin membatasi pergaulan hanya pada lingkungan kampus sendiri. Ia bahkan pernah mengikuti perkuliahan di Universitas Gadjah Mada bersama temannya. Pengalaman tersebut menggambarkan keterbukaannya terhadap lingkungan akademik yang lebih luas sebagai bagian dari proses memperkaya wawasan.
Moral sebagai Jalan Mengenal Tuhan
Bagi Isa, puncak moralitas adalah kebahagiaan. Manusia mengenal Tuhan melalui moral, yakni dorongan terdalam dalam diri untuk melakukan kebaikan. Keinginan untuk berbuat baik menjadi bagian penting dari kesadaran manusia dalam memahami hubungan antara dirinya, kehidupan, dan Tuhan. Moralitas dalam pandangan ini bukan hanya persoalan mengikuti aturan, melainkan juga menyangkut dorongan batin yang mengarahkan manusia kepada tindakan yang baik. Dengan demikian, moral menjadi bagian penting dalam perjalanan manusia untuk memahami makna kehidupan.
Pandangan tersebut mengajak manusia untuk tidak memisahkan pemahaman agama dari perilaku sehari-hari. Nilai moral perlu hadir dalam cara seseorang mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, dan menjalani tanggung jawabnya. Kebahagiaan, sebagai puncak moralitas, dapat dipahami dalam kaitannya dengan upaya manusia menjalani kehidupan secara bermakna. Pemahaman keagamaan pun tidak cukup berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi perlu disertai kesadaran untuk melakukan kebaikan. Melalui moralitas, pengetahuan memiliki hubungan dengan tindakan nyata dalam kehidupan manusia.
Berpikir Kritis Berawal dari Membaca
Isa memandang kritisisme sebagai sikap untuk tidak menerima informasi begitu saja. Sikap ini menuntut seseorang untuk mempertanyakan, menimbang, dan memeriksa informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, kemampuan tersebut menjadi penting agar seseorang tidak mudah menerima suatu pernyataan tanpa pertimbangan. Berpikir kritis bukan berarti menolak semua hal, melainkan memberikan ruang untuk memeriksa alasan dan dasar dari sebuah informasi. Dengan cara ini, seseorang dapat membangun pemahaman yang lebih cermat dan bertanggung jawab.
Namun, kemampuan berpikir kritis membutuhkan bekal pengetahuan. Isa menekankan bahwa membaca merupakan salah satu kunci untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Melalui bacaan, seseorang dapat memperluas wawasan, mengenali berbagai pemikiran, dan memperoleh dasar untuk menilai suatu persoalan. Pengetahuan yang telah dimiliki juga membantu seseorang menyusun pertanyaan yang lebih mendalam ketika berhadapan dengan informasi baru. Karena itu, kebiasaan membaca menjadi bagian penting dalam membentuk cara berpikir yang mandiri dan tidak mudah menerima sesuatu tanpa pertimbangan.
Selain membaca, Isa menekankan pentingnya diskusi dan menulis dalam membangun kekayaan intelektual. Diskusi memungkinkan seseorang bertemu dengan beragam pandangan dan mempertimbangkan gagasan dari sudut yang berbeda. Sementara itu, menulis membantu menyusun pemikiran agar lebih terarah dan mudah dipahami. Kedua kegiatan tersebut melengkapi proses membaca karena pengetahuan tidak hanya diperoleh, tetapi juga diolah dan dikembangkan. Melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, dan menulis, seseorang memiliki kesempatan untuk terus memperkaya wawasan sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis.
Menumbuhkan Intelektualitas melalui Proses
Perjalanan pemikiran Isa memberikan pelajaran bahwa intelektualitas tidak terbentuk secara instan. Kebiasaan bertanya perlu disertai dengan kesediaan untuk terus belajar dan memperluas pengetahuan. Keberanian mempertanyakan sesuatu akan lebih bermakna apabila didukung oleh bacaan yang memadai serta kemampuan memahami persoalan secara mendalam. Sikap kritis juga perlu disertai keterbukaan untuk mempertimbangkan pandangan lain. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir yang lebih matang.
Membaca memperluas wawasan, diskusi mempertemukan beragam perspektif, sedangkan menulis membantu mengolah gagasan menjadi pemikiran yang lebih jelas. Ketiganya merupakan proses yang saling melengkapi dalam membangun kekayaan intelektual. Pengetahuan tidak cukup hanya dikumpulkan, tetapi perlu terus dipertanyakan, dikembangkan, dan dibagikan melalui pemikiran yang terstruktur. Kebiasaan tersebut memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami persoalan secara lebih mendalam. Intelektualitas akhirnya tumbuh melalui proses belajar yang berkelanjutan, bukan semata-mata melalui pencapaian akademik.
Pada akhirnya, pemikiran kritis dan moralitas menjadi dua hal penting yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia. Nalar kritis membantu seseorang memahami persoalan secara cermat, sementara moralitas memberikan arah bagi tindakan yang dipilih. Melalui gagasan tentang pentingnya membaca, berdiskusi, menulis, dan berbuat baik, Isa mengingatkan bahwa pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan kesadaran moral. Menjadi intelektual bukan hanya tentang menguasai banyak informasi, melainkan juga tentang kesediaan untuk terus belajar dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Dari proses itulah pemahaman terhadap kehidupan dapat terus berkembang.
