Sering kali kita lupa bahwa setiap peradaban dibangun oleh satu hal yang sama, yakni tulisan. Masyarakat bisa maju karena ada orang-orang yang bukan hanya berbicara, tetapi mencatat, merumuskan, menganalisis, dan menyebarkan gagasan melalui karya tulis. Semangat inilah yang dipilih dalam kegiatan Meet n Great Komunitas Literat Muda (KLM), sebuah ruang belajar yang senantiasa berjalan bersama menumbuhkan cinta terhadap membaca dan menulis. Pertemuan kali ini menghadirkan Dr. Ahmad Zaidanil Kami, M.Ag, dan Muhammiad Nikmal Anas Alhadi, M.A untuk berbagi pengalaman inspiratif dari beliau. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri Ibu Wildah Nurul Islami, M.Th.I selaku penanggung jawab Komunitas Literat Muda. Di mana kegiatan ini diselenggarakan di Serambi Masjid Ulul Albab, 12 November 2025.
Sosok akademisi yang digemari oleh mahasiswa karena
intelektualnya, yang kerap dipanggil Pak Danil telah berbagi pengalaman dan
motivasi dalam hal kepenulisan. Ia menceritakan bahwa tidak pernah membayangkan
dirinya akan menjadi penulis. Ia secara jujur mengatakan, sejak mondok hingga
awal kuliah S1, dirinya tidak suka menulis. Ia tipe pembelajar visual dan
auditori. Membaca sulit, apalagi menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Namun
perubahan itu perlahan terjadi bukan karena paksaan, tetapi karena lingkungan
yang tepat.
Lingkungan yang Mengubah Cara Pandang
Pak Danil bercerita bahwa titik baliknya terjadi ketika ia bertemu teman kontrakan yang gemar menulis, serta ketika ia bergabung dalam Chris Foundation, komunitas yang rutin mengadakan diskusi dan bedah tulisan setiap malam Jumat. Dari ruang-ruang informal inilah ia mulai menyadari bahwa kemampuan menulis bukan soal bakat, tetapi kemauan dan kebiasaan. Ia bahkan mulai menulis di jurnal bereputasi ketika masih semester 1 S2, dan tulisannya berhasil terbit di Sinta 2. Pengalaman itu menyadarkannya bahwa menulis bukan hanya memberi manfaat intelektual, tetapi juga bisa memberi manfaat ekonomi. Namun yang terpenting, menulis membuat seseorang mampu mengekspresikan gagasan dengan lebih matang dibandingkan hanya berbicara.
“Sekarang, semua orang bisa ngomong. Tapi yang bisa menulis dan menelurkan gagasannya, jumlahnya sangat sedikit,” ujar beliau dalam forum.
Tiga Masalah Mahasiswa Hari Ini
Dalam diskusi, Pak Danil mengidentifikasi tiga masalah utama yang dialami mahasiswa terkait literasi: Tidak mau membaca, Mau membaca, tetapi tidak tahu apa yang harus dibaca, Sudah membaca tetapi salah memilih bacaan. Masalah ketiga dianggap paling berbahaya. Oleh karena itu, mahasiswa perlu diarahkan pada bacaan yang tepat terutama jurnal-jurnal berkualitas. Bagi mahasiswa IAT dan ILHA, misalnya, sangat penting menghatamkan jurnal-jurnal inti seperti Mutawatir, Usuluddin, atau jurnal Al-Qur’an dan Hadis bereputasi lainnya. Membaca tulisan-tulisan terbaik adalah cara tercepat untuk belajar menulis dengan standar akademik yang baik. Adapun salah satu pertanyaan dari peserta ini cukup relate-able bagi sebagian mahasiswa, yakni bagaimana caranya merangkai kata-kata yang baik dan benar? Terkadang kita sudah tahu mau menulis apa tetapi sering bingung dengan penggunaan kata-kata.
Menghindari Perfeksionisme yang dapat menghambat proses
menulis
Salaḥ satu penyakit yang sering dialami calon penulis adalah perfeksionisme. Terlalu idealis, terlalu takut salah, terlalu lama mengulang-ulang paragraf sehingga tulisan tidak pernah selesai. Padahal, menurut Pak Danil, “Tulislah dulu. Jelek atau tidak, kirimkan. Anggap saja sampah. Setelah itu menulis lagi.” Proses menulis memang penuh latihan. Yang penting berani menyelesaikan. Setelah selesai, barulah diperbaiki. Peradaban tidak dibangun oleh orang yang menunggu segalanya sempurna, tetapi oleh mereka yang melangkah lebih dulu, meski belum sepenuhnya siap.
Peran AI dalam Literasi ModernPada
sesi diskusi, Pak Danil menegaskan bahwa penggunaan AI bukan hal yang tabu. Bahkan wajib digunakan, selama data awal berasal dari penulis sendiri. AI dapat membantu merapikan paragraf, menyusun ide, atau memeriksa alur. Yang salah adalah ketika AI menulis semuanya tanpa ada proses berpikir dari manusia. “Yang penting kamu sadar dulu tulisanmu jelek, baru AI membantu memperbaikinya. Yang bahaya itu kalau jelek tapi tidak sadar.” Pesan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara kemampuan manusia dan teknologi, bukan menggantikan keduanya.
Di akhir sesi, Pak Danil memberikan saran agar KLM terus menjaga rutinitas diskusi, baik bedah artikel, skripsi, tesis, hingga disertasi. Konsistensi jauh lebih penting daripada hal-hal besar yang tidak berkelanjutan. Ia bahkan membuka diri untuk menjadi pemateri secara rutin. Baginya, KLM bukan hanya komunitas akademik, tetapi tempat membangun mentalitas penulis: tahan kritik, berani mencoba, dan siap ditempa. Banyak mahasiswa yang awalnya mengaku tidak bisa menulis, namun ketika “dipaksa” ternyata justru menghasilkan karya yang luar biasa. Pesannya sederhana tetapi kuat: kemampuan menulis bukan ditentukan oleh asal pendidikan, tetapi oleh kemauan untuk berproses. Kegiatan Meet & Greet ini menjadi pengingat bahwa menulis bukan sekadar aktivitas akademik. Ia adalah ibadah intelektual, kontribusi budaya, dan investasi jangka panjang. Dalam sejarah, peradaban maju bukan karena banyaknya orang yang pandai berbicara, tetapi karena adanya generasi yang meninggalkan jejak pemikiran melalui tulisan. Dengan begitu, Komunitas Literat Muda hadir untuk memastikan tradisi tersebut terus hidup. “Kalian tidak akan rugi berada di KLM. Yang rugi justru mereka yang tidak mencoba.” Ucap Pak Daniel mengakhiri sesi beliau.
